Tentang Agen dan Konsultan Studi di Jerman (2)

DISCLAIMER

Artikel ini saya buat berdasarkan hasil penelusuran, survey dan pengalaman saya pribadi beserta keterangan tambahan berupa testimonial dari beberapa teman yang menjadi siswa yang dilakukan di tahun 2007, 2010 dan 2015 di Indonesia dan di Jerman. Semua agen yang saya jabarkan dibawah ini dan seterusnya tidak saya sebutkan namanya bahkan inisial, ciri-ciri spesifik seperti kota bahkan pemiliknya pada demi menjaga nama baik institusi yang bersangkutan dan menghindari saya pribadi sebagai penulis dan semua hal yang terlibat dalam penulisan artikel ini dari ancaman pidana pencemaran nama baik atau ancaman secara pribadi. Semua yang saya tuliskan adalah hasil pengalaman pribadi yang mungkin sangat kuat unsur subjektifitasnya sehingga para pembaca diminta untuk bijak mencari tahu sendiri di institusi yang terkait. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah sebagai media edukasi, karena banyaknya pertanyaan seputar agen-agen atau konsultan studi di Jerman di blog kami www.jermandes.kelasnusantara.com dan di forum-forum diskusi di Kaskus dan PPI Jerman. Selain itu saya berharap dengan adanya tulisan ini, semua pihak dari siswa dan orang tua agar mendapatkan data yang berimbang bukan hanya sepihak dari pihak agen yang terkadang banyak dibumbui untuk kepentingan marketing mereka. Kepada para pelaku agen atau konsultan ke Jerman jika membaca ini mohon untuk mengisntrospeksi diri untuk niat anda berbisnis dan benahilah cara kerja anda agar para siswa anda tidak kecewa dan perusahaan anda tidak black list oleh beberapa sekolah. Silahkan berkomentar secara santun dan tidak menyebut nama perusahaan, lembaga, dan agen yang bersangkutan kalau tidak saya akan hapus komentar tanpa pemberitahuan.


Kalau ditanya kenapa saya mau membedah semua produk jualan agen atau konsultan studi ke Jerman ini, jawabannya sederhana, saya cuma membantu para orang tua siswa dan calon siswa supaya tidak kompulsif serta terburu-buru dalam mengambil keputusan karena iming-iming dari para marketing mereka. Karena waktu saya masih berkerja di salah satu Bank Multinasional di Jakarta, saya sering menjumpai aduan konsumen yang ditujukan kepada Bank di tempat saya berkerja di koran nasional. Ada juga mereka melapor ke YLKI (yayasan lembaga konsumen Indonesia) setempat tentang kelalaian kami. Tapi pas kami investigasi ternyata ga sedikit dari laporan itu justru karena kesalahan mereka seperti tidak membaca syarta kententuan yang berlaku. Jadi mereka pada asal tanda tangan aja tanpa membaca syarat ketentuan berlaku di bagian belakang formulir yang rangkap dua itu. Pada intinya adalah semua keluhan pelanggan itu datang dari kelalaian pelanggan sendiri dan oknum marketing yang sudah “kepepet target” sehingga mereka mengabaikan prosedur dan etika promosi. Jadi sebagai bahan pembanding saja realita di lapangan menurut versi saya dan beberapa teman. Semua ini saya lakukan demi keterbukaan informasi di era digital ini dimana kita tinggal “googling” maka semua akan keluar. Untuk itulah penting bagi saya untuk melihat fakta sebenarnya dibalik bujuk rayu “oknum kepepet ini” hahaha.

Pada artikel yang kedua ini saatnya untuk membuka sedikit demi sedikit data versi saya dan beberapa teman-teman di Jerman kemarin. Sekali saya tegaskan disini, saya membuat artikel ini bukan untuk menjelak-jelekan beberapa pihak yang berhubungan dengan agen atau konsultan studi ke Jerman. Saya cuma ingin semua calon siswa dan para orang tua mendapatkan informasi yang terbuka dan berimbang. Jadi penting banget kita semua tahu apa yang terjadi sebenarnya di Jerman. Langsung saja kita mulai membongkar data versi saya dan teman-teman dari artikel bagian pertama. Sebelumnya siapkan dulu kalkulator untuk menghitung berapa nominal rupiahnya (disini)

  • Mengenai biaya studi di beberapa negara terus terang saya ga sempat cross check semua negara apakah biayanya sedemikian mahalnya. Tapi yang jelas untuk negara Belanda saya masih survey kalau tidak berubah untuk orang Indonesia yang bukan warga negara EU, kita wajib menyediakan setidaknya satu semester sekitar 6.000 – € 16.000 tergantung jenjang studi. Saya pun juga sempat survey di beberapa pameran studi resmi milik pemerintah negara tersebut bukan agen ya…. Jadi fakta memang studi di Belanda biaya kuliah per semester memang seperti data yang disebutkan oleh data-data agen “A” ini dengan biaya sekitar sekitar 6.000 – € 16.000 tergantung jenjang studi

Gambar via www.hotcoursesabroad.com

Akan tetapi dibalik semua fakta studi yang diklaim lebih murah sekalipun di Belanda, tidak banyak agen menjual produk jasa untuk kuliah ke Belanda karena NESO Indonesia sangat proaktif sekali untuk memprosmosikan studi di Belanda jadi informasinya pun sangat berlimpah dan biaya kuliah serta biaya hidup masih diatas negara Jerman sehingga target kalangan menengah tetap tidak terjangkau.

  • Universitas negeri di Indonesia juga tidak lupa jadi bahan pembanding untuk agen yang satu ini. Setidaknya menurut data di tahun 2010 silam, untuk empat tahun setidaknya rata-rata kita memerlukan kocek sebesar Rp. 40 juta sampai dengan Rp. 300 juta. Ya mungkin 400 Juta adalah biaya kuliah termahal untuk jurusan Kedokteran.” (Gambar via Instagram Universitas Indonesia)

    Saya tidak perlu komentar disini, silahkan membandingkan sendiri di website resmi Universitas Indonesia. Sekali lagi, menurut saya data dari agen “A” ini sudah perlu direvisi dan untuk nominal tidak begitu jauh berbeda dan saya mendapatkan dari brosur mereka yang masih tersimpan rapi di gudang rumah saya. Kuliah di Indonesia tidaklah begitu buruk apalagi Universitas Negerinya. Jadi tidak usah berkecil hati ya, jikalau mereka si marketing menbanding bandingkan Universitas di Indonesia dengan di Jerman. Namanya juga promosi, wajar saja kalau membandingkan produk toko sebelah. hehehe

  • Jika kita tidak sanggup lolos test ujian masuk Universitas negeri maka pilihan berikutnya adalah Universitas Swasta yang rata-rata membutuhkan 80-350 juta rupiah. Angka yang mungkin wajar karena Universitas Swasta tidak mendapatkan sepenuhnya atau biaya disubsidi pemerintah.” (Gambar via www.kampus-info.com)

    Yup, ini adalah opsi kedua jika tidak diterima di Universitas Negeri. Tapi perlu diingat akreditasi Universitas yang bersangkutan dan plus minus lainnya karena memang jurang pemisah antara Universitas top dan Universitas biasa di Indonesia cukup besar terkadang. Beda sama Universitas di Jerman yang tidak mengenal sistem akreditasi, tetapi semua Universitas sama, hanya jumlah bidang penelitian unggulannya yang membedakan. Lah malah saya yang promosi hahaha… Biar lebih jelas, ini ada artikel di KasKus tentang bagaimana memilih Universitas Swasta dan Negeri.

Untuk negara Jerman sendiri kita wajib membayar Uang semester biaya kuliah per semester sekitar € 256 atau Rp. 3,9 Juta per semester (berdasarkan kurs tanggal 5 Juni 2015). Terus terang ini murah banget untuk kuliah di negara seperti Jerman. Saya tidak punya print out debet bulanan saya waktu membayar ini tapi saya ada bukti transfer uang semester dari FB teman saya. Di Universitas Duisburg-Essen, Semesterbeitrag nya sekitar € 270 atau sekitar 4 jutaan saja. Jadi bisa disimpulkan untuk data mengenai biaya studi di Jerman yang katanya paling murah di Jerman sekitar 2 jutaan untuk bachelor selama 8 semester dengan kurs waktu itu sekitar tahun 2010-2011 masih masuk akal dan benar walupun terhitung lebih murah sedikit dari kenyataan, Jadi untuk informasi biaya studi selama 8 semester atau 4 tahun adalah FAKTA.

  • Tempat tinggal menyumbang pengeluaran terbesar semua mahasiswa di Jerman dengan rata-rata € 150 – 250. ” (Gambar via www.ksta.de)


Yup ini benar, mau di Indonesia atau di negara manapun itu tetap tempat tinggal adalah biaya terbesar dalam sebulan. Begitu juga di Jerman. Perlu diingat mencari rumah di Jerman itu lebih sulit dari mencari perkerjaan sampingan jika kita tidak memiliki budget yang besar. Sedangkan rumah termurah di Jerman itu disediakan oleh pemerintah melalui Studentenwerk dan jumlahnya sangat terbatas. Dari total mahasiswa di Universitas di kota itu jumlah Wohnung atau tempat tinggal Student dorm itu paling cuma 20% saja bahkan lebih kecil. Rumah pun menjadi mahal dan sulit didapatkan di Jerman seperti di kota saya tinggal dulu di Aachen, rumah semakin sulit karena sudah diambil oleh Agentur atau agen properti. Kita harus menaikan budget untuk mendapatkan rumah di Jerman. Jadi batas atas € 250 tidak masuk akal. Kecuali memang siswa yang bersangkutan mendapatkan jatah Studentenwohnheim dari negara yang prosentasenya cuma 10%-25% itu. Jadi harus kritis dalam bagian ini. Syukur-syukur kalau agen tersebut punya kerjasama dengan salah satu perusahaan pengelola properti yang bisa memberikan akomodasi di beberapa bulan awal di Jerman, itu sangat bagus banget. Perlu diketahi bahwa komponen biaya sewa rumah di Jerman itu ada istilah Warm dan Kalt. Warm adalah hangat dengan maksud semua biaya total termasuk listrik, air, internet, pemanas ruangan dan gas. Isitilah lain dari ini adalah Nebenkosten atau biaya lain-lain. Sedangkan Kalt artinya dingin hanya biaya sewa rumah tidak termasuk listrik, pemanas ruangan dan biaya tambahan lainnya. Jadi kalau terima data mengenai sewa rumah jangan telan mentah-mentah bahwa memang segitu. *syarat dan ketentuan berlaku lagi disini. Hahaha tetap ya… harus sering-sering cross check. *IMHO hehehe. Coba cek harga sewa rumah rata-rata di kota tujuan kamu nanti disini. Data ini adalah semua mahasiswa dan mayoritas orang Jerman yang mereka akan mencari rumah diatas 300 euro. Kata kenalan-kenalan saya yang orang Jerman, mereka pasang budget tinggi biar dapat fasilitas yang sebanding. 

  • Biaya makan per bulan sangat relatif sekali di Jerman, tapi setidaknya versi agen “A” ini kita bisa memperkirakan € 125 – 150. Untuk menghemat kebanyakan mahasiswa studi di Jerman diwajibkan untuk memasak sendiri. Dan agen ini mengklaim mereka bisa mengajarkan memasak dan ada satu sesi pelajaran memasak di salah satu programnya.”
    (Gambar via www.zeit.de)

    Mensa der Universität Hamburg

    Menurut pengalaman saya di bagian ini cukup relatif sekali karena tergantung dari gaya hidup siswa yang bersangkutan. Semakin sering dia makan diluar maka semakin membengkak berat badannya,, ehhh. Maksudnya biaya pengeluaran dia. Memang fakta kalau memasak sendiri bisa menghemat pengeluaran cukup signifikan. Bayangkan saja dengan makan diluar saja sekali makan di Aachen setidaknya saya membutuhkan biaya € 3 – 9. Saya sih memperkirakan pengualaran saya untuk masak sendiri selama sebulan sekitar € 150 per bulan tapi bisa lebih karena sesekali, dua kali saya makan diluar dalam seminggu. Menurut www.unicum.de setidaknya survey mereka menunjukan bahwa dalam sebulan mahasiswa di Jerman menghabiskan uang makan sekitar €156,94.

  • Satu aspek pengeluaran yang tidak boleh dilupakan dan wajib di Jerman adalah asuransi dan menurut versi agen ini adalah € 57.”
    (Gambar via www.focus.de)
    Praxisgebühr, Krankenkasse, Daniel Bahr, Techniker Krankenkasse, Barmer, AOK

    Kenyataan di lapangan, Asuransi AOK (milik pemerintah) € 77,90 per bulan di tahun 2011 sampai 2012. Dan untuk asuransi swasta mulai dari € 33 untuk Mawista dan Care Concept. Perlu diingat khusus mahasiswa kita hanya boleh menggunakan asuransi milik BUMN Jerman AOK atau TK jika sudah menjadi mahasiswa. Yah pada intinya biaya asuransi € 57 masih sangat relatif, apakah asuransi milik pemerintah atau swasta dan untuk mahasiwa atau sprachkurs. Kecuali data diambil di tahun 2000an atau di tahun 90an akhir atau di jaman si pendiri agen masih kuliah dulu. Hahaha.

  • Biaya transportasi dalam sebulan dianggarkan sekitar € 10 – 20. Ini relatif ya tiap kota, bisa jadi lebih mahal. Ambil saja nilai tertingginya. ” (Gambar via www.readmore.de)

Sebelumnya kan saya sudah bilang kalau uang semester teman saya € 270. Waktu saya di Uni Jena (2011 – 2012), satu semester bayar sekitar € 265 kalau ga salah atau 256 euro. Perlu diingat bahwa uang semesteran kita itu sudah termasuk buat uang kemahasiswaan dan Semestertiket atau tiket berlangganan transportasi umum di satu kota bahkan antar kota dalam negara bagian khusus kereta regional dan kelas ekonomi (mayoritas negara bagian). Jangan bayangkan kereta ekonomi di Jerman kaya di Indonesia ya. Hahaha pokoknya bagus kayak gini nih. (Gambar via www.jughalt.de)
Innenraum des neuen RSXBalik ke tema utama, jadi kalau € 260 / 6 bulan total kita bayar sebulan aja sekitar € 43,30. Masih ga percaya atau dikira saya mengada-ada, nih. Tiket berlangganan bulanan itu tergantung jangkauannya ring A, ring B, dan seterusnya. Di Aachen dulu saya berlangganan tiket bulanan dalam kita ring 1 (city XL) dalam kota di tahun 2012 aja sekitar € 30an saya lupa berapa persisnya. Nah kalau mencantumkan lebih murah kan kebangetan nih. Ya sudah lah. Nanti malah curhat colongan nanti, hahaha…. Jadi tidak mungkin dengan € 20 cukup untuk transportasi bulanan. Pada kenyataannya lebih mahal (tapi tergantung kebijakan kota dan negara bagian).

  • Telepon / HP / Listrik € 15 – 45.”

    Kalau untuk ini, sama kaya uang makan sebulan kamu. Kalau saya dulu pakai O2 Blue 100 dengan pasca bayar sekitar € 25 dengan bonus nelp gratis ke sesama O2 sepuasnya dan ke telepon rumah se Jerman dan operator lain sekitar 100 menit dan paket data 100 MB kalau ga salah. Nah tahun 2012 saya migrasi paket menjadi O2 Blue Basic € 10 dengan gratis nelpon sesama O2 sepuasnya, tapi ga dapat bonus sebanyak O2 Blue 100 paket datanya aja cuma 50 MB. Hah orang Indonesia dikasi paket data segitu yang ada kaya kiamat, ga bisa eksis, hahaha. Makanya saya jarang eksis di Sosial Media di tahun 2012 dan seterusnya. Hahaha. (Gambar via www.handy-flatrate-24.de)
    Blue Deals: o2 Handytarife besonders günstig bestellen

    Untuk internet saya bayar cuma € 10 karena tinggal di Studentenwohnheim dan listrik tidak dikenakan biaya. (Gambar via www.praxistipps,chips.de)

    Tapi kalau di privat Wohnheim pasti ga cukup tuh € 45. waktu di Aachen saya tinggal di Studentenwohnheim swasta dan untuk listrik minimal saya membayar sekitar € 30an per bulan tergantung pemakaian. Blom lagi kalau ada kelebihan beban pasti akhir tahun ditagih lagi. 
    (Gambar via www.stromvergleich.de)

    Stromkosten in Deutschland
    Jadi kalau € 45 per bulan untuk pengeluaran Telepon / HP / Listrik masih mungkin dengan catatan yang bersangkutan tinggal di Studentenwohnheim milik pemerintah.

  • Biaya lainnya € 50 – 75entah buat apa biaya ini tetapi di Indonesia kita sering mendengar biaya tak terduga”(Gambar via www.ruhrnachrichten.de)
    Viele Studenten nehmen Vorlesungen mit ihrem Handy auf, um hinterher damit zu lernen. Um Konsequenzen zu vermeiden, sollte man aber vorher um Erlaubnis fragen. Foto: Peter Kneffel
    Untuk bagian ini sangat sangat relatif jumlahnya, ini semua dikembalikan ke siswanya selama di Jerman. Entah ini fotocopy, kirim pos, dan lain lain…
    Yah apapun ini saya rasa bukan menjadi masalah besar mengingat terkadang kita mengeluarkan transaksi tak terduga dalam sebulan, misal rencana perjalanan dadakan, makan diluar bersama teman, dan masih banyak lagi. Pokoknya selama di Jerman untuk masalah anggaran sangat sangatlah harus ketat. Apa gunanya kuliah di Jerman tapi ga disiplin dalam keuangan. Setuju ga dengan saya?
  • “Total jadinya biaya yang harus dikeluarkan sekitar € 407 – 597 murah ya, nanti saya akan bandingkan dengan versi saya dengan kenyataan di lapangan di bagian kedua nanti.

    Durchschnitt der Lebenshaltungskosten in:
    Deutschland
    Miete inkl. Nebenkosten:
    263,90 €
    Ernährung:
    156,94 €
    Kleidung, Wäsche, Körperpflege:
    57,08 €
    Laufende Ausgaben für ein Auto:
    [?]

    125,88 €
    Ausgaben für öffentl. Verkehrsmittel:
    [?]

    35,34 €
    Krankenversicherung, Arztkosten, Medikamente:
    75,81 €
    Telefon, Internet, Rundfunk- und Fernsehgebühren:
    46,98 €
    Lernmittel:
    37,02 €
    Gesamtkosten (nur Auto):
    763,62 €
    Gesamtkosten (nur ÖPNV):
    673,07 €
    Gesamtkosten (Auto + ÖPNV):
    798,96 €

     (Data via www.unicum.de)

    Durchschnitt der Lebenshaltungskosten in: Deutschland
    Biaya hidup rata rata di Jerman
    Miete inkl. Nebenkosten: Sewa rumah termasuk biaya tambahan € 263,90
    Ernährung: Kebutuhan pangan € 156,94
    Kleidung, Wäsche, Körperpflege: Pakaian, Laundry, Perawatan tubuh termasuk salon € 57,08
    Laufende Ausgaben für ein Auto: Pengeluaran untuk sebuah mobil (biasanya orang Jerman) € 125,88
    Ausgaben für öffentl. Verkehrsmittel: Pengeluaran untuk transportasi umum € 35,34
    Krankenversicherung, Arztkosten, Medikamente: Asuransi, Biaya kesehatan, obat  75,81
    Telefon, Internet, Rundfunk- und Fernsehgebühren: Telepon, Internet, iuaran radio dan televisi (khusus di Jerman) € 46,98
    Lernmittel: Perlengkapan belajar € 37,02
    Gesamtkosten (nur Auto): Biaya keseluruhan hanya dengan menggunakan mobil pribadi € 763,62
    Gesamtkosten (nur ÖPNV): Biaya keseluruhan hanya dengan kendaraan umum € 673,07 
    Gesamtkosten (Auto + ÖPNV): Biaya keseluruhan dengan mobil pribadi dan kendaraan umum € 798,96

    Sebenarnya kalau dilihat dari total biaya versi agen “A” ini saya setuju menanggukan kepala kalau biaya diambil yang terburuknya sekitar € 597 per bulan. Tapi hasil bisa berbeda jika masih Sprachkurs, ada kemungkinan biaya hidup membengkak menjadi sekitar € 650-750 karena harga sewa rumah yang lebih mahal. Makanya cari agen yang bisa kasi akomodasi di bulan-bulan pertama kalian tiba bukan baru cari pas sudah sampai di Jerman. Dan untuk mendapatkan rumah dengan harga yang murah itu untung-untungan. Jadi jangan terima mentah-mentah kalau mereka menjelaskan biaya hidup. Jadi harus cross check dengan googling dengan kata kunci “biaya hidup di Jerman”, harga “sewa rumah di Jerman”, atau “biaya transportasi bulanan di Jerman”. Tapi memang kenyataan kalau biaya hidup untuk negara semaju Jerman memang relatif lebih murah dibandingkan dengan negara maju lainnya di Eropa dan menempati peringkat 25 lebih murah dari negara negara tetangga (data dari www.numbeo.com)

Biaya kuliah sudah, biaya hidup per bulan juga sudah, nah sekarang tiba di bagian yang bikin mata melotot. Bagaimana masalah finansial selama kuliah.

  • Kerja part time saat kuliah dengan maksimal 20 jam kerja / minggu dan tidak ada data berapa kira-kira para siswa mereka yang terdahulu bisa mendapat penghasilan sebulan. Tapi mereka menyebutkan para mahasiswa asing banyak berkerja bersih-bersih rumah, jadi baby sitter, pelayan atau di dapur restoran, dan masih banyak lagi.”


    Untung saja pada bagian ini pihak agen tidak mengeluarkan data-data yang aneh-aneh lagi atau data yang usang. Mereka cuma mencantumkan bahwa kita boleh berkerja part time atau Mini Job maksimal 20 Jam seminggu. Yup benar ini fakta, cuma pertanyaannya apakah bisa dijadikan pegangan hidup atau ga cuma kalian yang nanti kesana yang bisa menjawab. Terus terang untuk masalah kerjaan dibutuhkan jaringan yang cukup kuat antar mahasiswa Indonesia dan teman teman sesama Ausländer atau imigran. Lebih baik lagi kalau ada teman teman orang Jerman yang dipercaya. Tapi sepengalaman saya, perkerjaan itu datangnya kebanyakan dari sesama orang Indonesia. Jadi pinter pinter kalian aja sih. Yang jelas untuk kerja paruh waktu ga bisa dijadikan patokan kalau kalian bisa survive di Jerman cuma bermodalkan kiriman pada tahun pertama. Kerja paruh waktu ini bisa maksimal mencukupi 50% biaya hidup sebulan.
    Jadi jangan maksakan diri atau naif untuk bisa survive di Jerman dengan modal uang jaminan tahun pertama € 8.090 sampai orang tua menjual ini itu, gadai ini itu, atau bahkan pinjam di Bank kalau ternyata kalian sampai di Jerman harus Sprachkurs dulu, Studkoll dulu apalagi sampai main-main dan ga serius. Kalau tiba di Jerman langsung mulai kuliah (master) masih mungkin dan boleh diperjuangkan karena kalian mendapatkan visa pelajar dengan segala kemudahan dari negara Jerman, tapi sekali lagi dengan catatan jangan berharap bisa selesai tepat waktu 2 tahun.

  • Berkerja di musim liburan para siswa dapat kerja full time dengan pendapatan € 8 – 12 / jam. Perkerjaan kebanyakan di pabrik dan beberapa perusahaan jasa.”

    Yup kalau ini saya sepakat, memang di musim liburan khususnya Sommerferien atau libur musim panas pekerjaan banyak tapi bukan berlimpah sampai turah turah kalau orang jawa bilang. Tetap aja rebutan kita untuk bisa dapat kerjaan di musim panas. Saya sih ga punya data pasti yang jelas kerja di pabrik akan sangat banyak ketika musim panas. Jumlah bayarannya pun memang benar berkisar diantara € 8 – € 12 / jam. Cuma permasalahnnya di lapangan adalah apakah jadwal ujian kalian bisa dipastikan selesai tidak lama setelah masa perkuliahan berakhir? Jangan sampai nanti jadwal ujiannya misah misah terus pas giliran dipanggil kerja malah ga bisa kerja dan ga dipanggil lagi. Ini penting banget bagi kamu yang kerja melalui Agentur, mereka akan panggil yang tersedia di waktu itu, kalau ga ada mereka akan panggil orang lain, dan seterusnya kamu akan berurusan dengan orang di pabrik. Dan sifat waktu kerja shift mereka itu terikat bukan mereka yang menyesuaikan jadwal ujian kita tapi sebaliknya. Jadi kalau ada yang bilang dengan kerja full time selama liburan bisa menutup biaya setengah tahun atau bahkan sampai menutup biaya hidup setahun full. Ini sangat mungkin tapi kaliah harus KERJA KERAS dan ga boleh malas atau menunda perkerjaan sederhana.

  • Berkerja magang 6 – 12 bulan adalah opsi berikutnya.”

    Sekarang banyak tempat praktikum di Jerman kita tidak dibayar, jadi semacam Freiwillige atau praktikum sukarela. Kalau adapun yang kita dibayar, biasanya tidak lebih dari € 400 / bulan. Ada yang pernah cerita sama saya juga waktu kerjanya sama seperti pegawai normal atau sekitar 8 jam / hari. Nah ini lah lihainya orang Jerman, mereka tau kita butuh pengalaman, atau syarat pelengkap untuk mendaftar jurusan tertentu (Vorpraktikum / Praktikum di awal semester) dan butuh duit juga, mereka benar menggunakan jasa “gratis” ini dengan jam kerja yang banyak. Kadang dibayar pun tidak banyak tapi kerja dengan jumlah jam kerja yang overlap. Jadi jangan telan mentah mentah kalau praktikum bisa menjamin hidup kalian ya, semua tergantung kalian nanti di Jerman.

  • Dana bantuan kepulangan maksimal € 1.000 

  • Dana bantuan peralatan karir maksimal € 10.000

  • Dana bantuan buku € 100 / tahun

    Sumber www.zav-reintegration.de 

Kesimpulan:

Karena saya adalah siswa agen ini bukan berarti saya bakal membela mereka juga, pasti saya akan buka semua positif dan negatif agen “A” ini dan saya tau sekali isinya seperti apa. Terus teran agen ini reputasinya cukup bersih menurut saya karena ketika kamu googling tidak ada muncul keluhan atau kasus agen ini yang sampe masuk kaskus. Kalau nama agen kamu ketik sampai masuk kaskus apalagi sampai atau auto prediction text nya wah itu hati hati aja, hahaha. Beneran ini serius. Kaskus itu adalah curhatan jujur korban agen di Jerman, yah walaupun tidak bisa dipastikan itu karena ketidakpahaman siswa dalam membaca surat kontrak atau kelalaian pihak agen. Sekali lagi jangan telan bulat bulat semua informasi yang ada di dunia ini, apalagi sekarang kita berada di era informasi digital yang semakin bebas dan semakin kebablasan sampai agama pun dijadikan bahan untuk menakomodasi keinginan golongan serakah. Haduh jadi berat gini tulisannya… hahaha. Oke mari kita bikin kesimpulan negatif positif dari agen “A” yang pertama ini. Oiya sebelumnya sebagai informasi, kalau saya bergabung dengan agen “A” karena kesibukan waktu berkerja di Jakarta dan orang tua insist kalau saya harus menggunakan jasa agen kalau tidak, ga boleh pergi. Why? Karena saya anak bungsu dan kesayangan orang tua. Hahaha

  1. Kekurangan (menurut saya):
    1. Ada oknum orang dalam yang “janji berlebihan” jika nanti saya akan meminta bantuan mereka lagi, dan kami semua sudah baca kontrak kami kalau boleh meminta bantuan lagi dengan bayaran tersendiri. Pada kenyataannya ketika saya meminta pertolongan mereka bilang “mas Indra kamu kan sudah memilih Universitas itu jadi …. bla … bla kalau mau daftar Universitas lain daftar sendiri” (WTF)… Nice, makasih bantuannya mbak. Kata kata mu yang kamu bilang kalau hutang jasa karena belum keterima di Universitas yang dituju kalian mau bantu lagi. Ya sudah lah. Namanya juga diurus orang.
    2. Sebelum poin pertama diatas, saya sempat dikerjain dikit sama mereka. Ketika diminta 5 Universitas untuk didaftarkan mereka sengaja atau tidak, memilih Universitas favorit dan prosentasenya untuk keterima kecil sekali karena sudah kuota kecil, pendaftar banyak, dan kemampuan bahasa Jerman saya waktu itu masig B2 dan mereka minta setara C1. Saya waktu itu punya IELTS aja. Yah terang saja ditolak lah, tapi mereka bilang “coba dulu aja, siapa tahu diterima, soalanya biasa juga siswa kita dulu begitu diterima”. Kenapa saya percaya saja waktu itu. Saya sadar ini adalah supaya tugas mereka segera selesai.
    3. Oknum agen “A” ini pernah menunjukan pada saya daftar rincian biaya jasa mereka. Dengan polosnya mereka bilang ini mereka ga ambil untung banyak, mereka ambil untung cuma di bagian tertentu dengan menunjukan nomimal angka yang cuma sekian juta saja. Padahal rincian biaya mereka semua sudah di mark up. Ya ya ya, pencitraan saja itu rincian biaya, toh setiap biaya mereka naikkan sekian persen walaupun ga kelewatan menurut saya.
    4. Waktu presentasi di daerah, staff marketing kurang survey dengan bertanya mantan siswa mereka dari kota yang sama mana sekolah favorit, sekolah orang berduit, jadi mereka punya skala prioritas untuk target marketingnya. Tau tau saya waktu itu dibawa ke sekolah yang saya ga pernah tau kalau itu sekolah, saya pikir gudang beras. Beneran ini bodoh banget menurut saya, ga tanya saya dulu. Kurang persiapan banget deh.
    5. Agen ini tidak full service, jadi siswa ditolong selama 3 bulan pertama saja. Sisanya dadaah…. Tapi ada baiknya jadi ga nambah dosa mereka juga sih hahaha.
    6. Walaupun tergolong murah jika dibandingkan dengan kompetitor yang lain, tapi nominal jasa mereka lumayan buat uang saku tambahan di Jerman.
  2. Kelebihan (menurut saya juga):
    1. Dari segi harga cukup masuk akal, total jasa mereka dari Indonesia sampai di Jerman tidak termasuk biaya Sprachkurs cukup bersaing, tidak sampai 100 juta. Sekarang mungkin sudah 100 jutaan kali ya.
    2. Ada kerjasama dengan beberapa studkoll di Jerman untuk mengadakan Aufnahmeprüfung di Jakarta. Dan ini penting banget.
    3. Tentu saja ada jam ekstra bahasa Jerman untuk mempersiapkan soal Aufnahmeprüfung.
    4. Relasi di Jermannya lumayan oke dengan jaringan luas dan menjaga nama baik mereka.
    5. Founder dan Co-Founder nya beneran alumni Jerman jadi bukan sok tau tentang Jerman juga.
    6. Membuka jalur komunikasi dengan membuat semacam perhimpunan orang tua siswa.
    7. Banyak workshop yang sangat berguna banget untuk survival tips di Jerman dan bagian yang mengurus pendaftaran minimal pernah ke Jerman walaupun cuma Au Pair.
    8. Ada kerjasama dengan perusahaan di Jerman untuk perwakilan selama di Jerman bukan menjadikan Studentenwohnheim sebagai kantor abal-abal. Walaupun saya ga tahu fungsinya ini apa, mungkin pencitraan aja. Mungkin lho ya.
    9. Staff yang asik dan kocak karena bisa diajak becanda jadi mencairkan suasana. Hehehe
    10. Surat kontraknya jelas dan komplit banget sampai Notaris langganan saya geleng geleng kepala karena detail sekali. Dan tidak ada pasal tersembunyi atau pasal karet yang memberatkan siswa dan orang tua.
    11. Saya tambahin nanti ya kalau masih ada. Hehehe

Cukup sekian dulu ulasan untuk agen “A” ini semoga bermanfaat. Semoga tulisan ini bisa dijadikan bahan pedoman untuk pengambilan keputusan apakah kalian mau ikut agen atau tidak dan yang terpenting jangan sampai kalian berangkat ke Jerman dengan bermodalkan “janji janji surga” dan “lip service” dari mereka. Kalau kalian bermasalah dengan finansial dan tetap ngotot berangkat ke Jerman, mohon untuk memperhitungkan secara seksama biaya untuk ke Jerman itu tidaklah kecil terutama di 2 tahun pertama sebelum kalian diterima Universitas… Nanti saya akan cerita bagaimana cara menghitung anggaran pengeluaran persiapan di Indonesia dan 1 tahun pertama di Jerman di artikel lainnya. Jangan lupa untuk baca terus blog saya dan teman teman di www.jermandes.kelasnusantara.com

Sampai jumpa di artikel kupas tuntas selanjutnya dengan agen yang berbeda *jantung berdebar semakin kencang… hahaha

 Salam

@indraachen

Advertisements

3 comments

  1. […] Dari semua data diatas yang dirangkum dari presentasi dan brosur yang saya pegang agen ini cukup dipercaya dan tidak ada reputasi negatif yang saya temukan berdasarkan siswa-siswa mereka yang ada di Jerman. Tapi yang perlu digaris bawahi adalah data-data yang mereka sajikan. Ada beberapa bagian yang menurut saya harus diantisipasi supaya tidak kecewa setelah mengetahui dengan tiba di Jerman. Akan tetapi semua akan saya bahas di bagian kedua. […]

    Like

  2. […] Dari semua data diatas yang dirangkum dari presentasi dan brosur yang saya pegang agen ini cukup dipercaya dan tidak ada reputasi negatif yang saya temukan berdasarkan siswa-siswa mereka yang ada di Jerman. Tapi yang perlu digaris bawahi adalah data-data yang mereka sajikan. Ada beberapa bagian yang menurut saya harus diantisipasi supaya tidak kecewa setelah mengetahui dengan tiba di Jerman tidak sesuai dengan yang dipresentasikan. Akan tetapi semua akan saya bahas di bagian kedua. […]

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s